Nama : Indah Bekti Wijayanti
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Kesan Pertama "Mondok" 24Jam di Ponpes Nurul Qur'an
Perkenalan singkat, saya Indah Bekti Wijayanti, mahasiswa Perbankan Syariah di IAIN Surakarta. Saat ini Maret, 2018 saya masih berada di jenjang semester dua. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan kesan saya, sekaligus berbagi pengalaman bagaimana saya yang sebelumnya tidak pernah mondok, kali ini akan tinggal di pondok walaupun hanya 1x24 jam. Dan pastinya juga untuk memenuhi tugas saya pada mata kuliah Metodologi Studi Islam.
Awalnya memang saya terkejut dan memang terasa berat begitu mendengar bahwa saya akan mendapat tugas untuk tinggal di suatu pondok pesantren. Tetapi apa boleh buat, sebagai mahasiswa hanya bisa menerima apapun tugas dari sang Dosen. Namun sesuatu hal terjadi kepada perasaan diri saya setelah selesai tinggal di ponpes yang tidak pernah terfikir sebelumnya. Penasaran? Mari kita lanjutkan.
Proses Berburu Pondok Pesantren
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, berawal dari tugas, akhirnya saya bersama 4 orang teman saya yang lain yang telah tergabung dalam satu kelompok mencari ponpes di daerah Klaten bersama dengan kelompok lain yang lebih memahami daerah Klaten. Awalnya saya dan teman-teman berniat mencari ponpes di Boyolali, tetapi sudah banyak kelompok lain yang sudah mendapatkan ponpes di sana dan sepertinya lebih baik mencoba mencari di Klaten dahulu. Saya masih ingat saat itu hari Rabu, tanggal 7 Maret kalau tidak salah, selesai mata kuliah hari itu, sekitar pukul 10 pagi saya bersama teman-teman yang lain mulai berangkat menuju Klaten, setelah menunggu berjam-jam hingga semua anggota terkumpul.
Di bawah langit yang sangat terik di Klaten saat itu kami bersama-sama mulai menyusuri jalan. Dengan 7 buah motor yang berjalan beriringan sudah seperti touring anak geng motor. Pesantren pertama yang kita datangi terlihat sangat modern dan satu lokasi dengan sekolah, entah khusus santri atau bukan. Setelah perwakilan dari kami berbicara dengan salah satu pengurus ponpes, kami diminta untuk menunggu pimpinan ponpes di ruang tamu yang cukup luas. Setelah lumayan lama menunggu, pengurus ponpes yang tadi datang kembali dan mengatakan bahwa pimpinan ponpes tersebut sedang ada kesibukan, dan tidak bisa menemui kami. Si pengurus mengatakan bahwa beliau hanya mau ditemui oleh dua orang perwakilan dari kami di ruangannya. Setelah agak lama menunggu akhirnya dua teman kami kembali dengan ekspresi wajah yang tidak meyakinkan, dan tak lama kemudian kami pun berpamitan.
Selepas dari ponpes pertama, kami berlanjut menuju ponpes kedua. Berbekalkan google maps kami mencari lokasi ponpes tersebut, karena kami mengetahui ponpes tersebut juga dari google. Jarak dari ponpes pertama menuju ponpes kedua lumayan jauh, memasuki pusat kota Klaten. Selain itu, kami sempat berputar-putar karena jalan yang diarahkan lumayan membingungkan. Bahkan kami sempat bertanya dengan warga sekitar, tetapi tetap saja kita kebingungan. Sampai akhirnya kami bertemu dua orang siswi yang sedang berjalan pulang. Kami bertanya tentang lokasi ponpes dan dengan penjelasan mereka akhirnya kami menemukan ponpes tersebut. Sesampainya di ponpes kedua, kami mendapati gerbang tertutup namun tidak dikunci, kami mengucap salam dan menyapa tetapi tidak ada yang menyahut, saya mengintip dan yang terlihat dari luar pagar hanya ada kucing yang berkeliaran di area ponpes. Lumayan lama kami menunggu, sampai kemudian dari kejauhan terlihat ada dua orang yang berjalan menuju tempat kami dan wajahnya tidak asing lagi. Ternyata dua orang siswi yang tadi kami tanyai mengenai lokasi ponpes. Rupanya mereka berdua adalah santri dari ponpes tersebut, yang kita tunggu.
Setelah gerbang dibuka kami dipersilahkan masuk dan menunggu pengurus ponpes di suatu bangunan seperti pendopo yang kemudian kami ketahui di situlah pusat kegiatan santri tersebut. Sangat lama kami menunggu pengurus tersebut keluar menemui kami. Sampai waktu dhuhur datang dan santri yang tadi kami temui menyuruh kami kami untuk sholat terlebih dahulu. Selepas sholat masing-masing, pengurus yang kami tunggu-tunggu belum juga keluar. Seperti tidak digubris kedatangan kami, kami sempat memutuskan untuk berpamitan saja, karena merasa niat kedatangan kami sudah ditolak mentah-mentah. Namun, ketika kami memanggil dan mencoba untuk berpamitan, kami malah disuruh menunggu sebentar lagi. Setalah menunggu lagi dengan waktu yang tidak sebentar sampai kami mulai kelaparan akhirnya pengurus ponpes tersebut keluar dan kami hanya mengobrol sebentar dengan beliau karena nyatanya kami harus menemui pimpinan ponpes yaitu Bapak Kyainya, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perizinan.
Dengan diantar dua santri yang kami temui tadi, olehnya kami diantat menuju ponpes putra yang letaknya tidak terlalu jauh dari ponpes putri tadi. Kami kesana untuk menemui Bapak Kyai pimpinan ponpes tersebut. Sesampainya di ponpes putra, dua orang perwakilan dari kami dan ditemani dua santri yang tadi menemui pimpinan ponpes tersebut, dan setelah menunggu lagi lumayan lama, akhirnya mereka keluar dan mengatakan bahwa kami diizinkan tinggal di sana untuk melakukan observasi memenuhi tugas kuliah.
Setelah dari ponpes putra, kami semua berniat mencari makan siang karena sudah sangat kelaparan. Setelah selesai makan siang, kami berencana mencari ponpes lagi karena saat itu terdapat 3 kelompok dalam rombongan kami, dan satu ponpes hanya boleh ditinggali satu kelompok saja. Namun saat itu ada beberapa orang dari kami yang memiliki acara dan tidak bisa ikut mencari ponpes lagi. Akhirnya diputuskan hanya 6 orang saja yang akan mencari ponpes lagi, sedangkan sisanya termasuk saya, pulang dan tidak ikut mencari lagi, karena saya sudah merasa lelah.
Dua hari setelahnya, tepatnya hati jum'at, kelompok saya berniat akan mencari ponpes lagi tetapi di daerah Boyolali, dengan ditemani satu teman lain yang rumahnya Boyolali dan lebij mengetahui secara pasti lokasi ponpes. Namun karena saya ada kesibukan lain yakni mengerjakan tugas mata kuliah lain yang juga berkelompok, saya jadi tidak ikut berburu ponpes di Boyolali. Juga satu teman saya yang juga anggota kelompok tidak bisa ikut karena ingin pulang ke rumah. Akhirnya hanya empat orang yang mencari ponpes di Boyolali. Dan saya hanya mendapat cerita dari teman saya bahwa mereka telah menemukan ponpes yang dirasa sangat pas untuk kita melakukan observasi di sana. Setelah sebelumnya sempat mendatangi ponpes lain yang menurut mereka sangat ketat peraturannya dan sepertinya tidak diterima untuk tinggal di sana karena ponpes yang sangat tertutup. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih ponpes Nurul Qur'an yang terletak di desa Teter, kecamatan Simo, Boyolali.
Proses Observasi
Pada hari Kamis, tanggal 15 Maret 2018 sehabis sholat dhuhur saya dan teman-teman berkumpul di kost salah saty anggota, dan kemudian berangkat bersama-sama menuju ponpes Nurul Qur'an menggunakan 3 buah motor. Dengan perjalanan sekitar 30 menit dengan kondisi jalan yang terdapat lubang di sana-sini sampailah kami di ponpes tersebut. Tidak lama kami menunggu setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, keluarlah Ibuk Nyai yang merupakan pimpinan ponpes tersebut menyambut baik kedatangan kami.
Setelah mengatakan niat kami datang pada hari itu, kami diminta untuk menunggu sebentar. Kami menunggu di ruang tamu dengan duduk bersila dan disuguhi air putih dalam kemasan dan beberapa makanan kering di dalam toples serta sepiring buah salak. Setelah menunggu agak lama, datanglah dua orang santri putri bernama mbak Nisa dan mbak Iroh. Mbak Nisa merupakan kurah santri putri dan beliaulah yang setia menemani kami selama tinggal di ponpes. Olehnya kami diajak menuju gedung pondok putri yang berada tepat di samping rumah pimpinan ponpes tersebut.
Setelah masuk ke dalam kami ditunjukkan sebuah ruangan yang nantinya akan menjadi tempat tidur kami. Tidak perlu dijelaskan seperti apa ruangan tersebut. Kemudian kami masuk dan beristirahat sebentar sambil membereskan barang-barang kami masing-masing. Tak lama kemudian terdengarlah suara adzan, kami diberitahu tempat di mana santri putri biasa sholat berjamaah, dan di mana tempat berwudhu, juga tempat kamar mandi. Saya pun kemudian mengambil air wudhu dan bersiap untuk sholat asar berjamaah. Tempat sholat berjamaah berada di lantai dua gedung tersebut, begitu naik, saya melihat semua santri membaca musaf Al-Qur'an sambil menunggu kedatangan Ibuk (biasa para santri memanggil istri pimpinan ponpes tersebut) yang akan menjadi imam kami nanti.
Setelah usai sholat berjamaah, seluruh santri dengan dipimpin Ibuk, berdzikir dan membaca doa-doa, yang saya ingat dibaca juga ayat kursi dan surat Alfatihah. Lumayan lama kami membaca dzikir dan doa-doa tersebut. Sesuai sholat berjamaah terdapat kegiatan Diniyah, yakni pengkajian kitab-kitab yang dipimpin oleh santri dari ponpes tersebut namun sudah menguasai kitab-kitab yang diajarkan. Diniyah dibagi menjadi tiga kelas sesuai dengan tingkatan kitabnya masing-masing. Kelompok kami dibagi menjadi 3 dan kemudian memasuki masing-masing kelas. Saya memilih kelas secara acak, namun ternyata saya kebagian kelas tingkatan paling awal. Saat itu Ustadz membahas tentang bab Taharah (bersuci). Ustadz membaca kitab kemudian menerjemahkannya kedalam bahasa Jawa halus, kemudian menjelaskannya.
Kitab-kitab yang dikaji di ponpes ini, diantaranya adalah:
1. Wustho : mustholah tajwid, whasoya, jurumiyah, sorof (amtsilah basrifiyah), jawahirul qalamiyah, lubabul hadits, safinatun naja.
2. SP : 'aqidatul awwal, tarikh islami, alala.
3. Ula : tuhfathul athfal, mabadi fiqih, taisirul kholaq, arbain nawawi, aqaid diniyah.
4. Ulya : fathul qarib, ta'lim muta'alim, al mu'awiyah, tafsir jalalan, durrotun nasihin, bulughul maram.
Seusai penjelasan, dibukalah sesi tanya jawab. Para santri sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan. Pada saat itulah kami juga diminta untuk memberikan perkenalan dan penjelasan singkat mengenai IAIN Surakarta. Para santri pun juga tidak kalah antusias dalam bertanya, mengenai pengalaman kami, cara masuk IAIN, dan lain sebagainya.
Seusai kegiatan Diniyah, kami berziarah ke makam simbah dari Bapak Kyai bersama para santri. Disana kami men baca surat Yasin, Tahlil, Asmaul Husna dan beberapa bacaan lain. Sebelum maghrib, kami beranjak kembali menuju ponpes karena memasuki waktu makan. Sepulang dari makam, kami berlima langsung masuk kamar dan beristirahat. Tiba-tiba Mbak Nisa datang dan membawa nampan berisi makanan nasi beserta tiga macam sayur dan ditambah satu plastik krupuk. Terdapat satu sayur yang rasanya sedikit aneh karena saya belum pernah memakannya, seperti beraroma minyak telon. Tetapi sayur yang lain terasa nikmat, apalagi maka bersama dalam satu nampan.
Seusai makan, saya mandi, dan kemudian sholat maghrib berjamaah di Masjid ponpes. Sesuai sholat, kami membaca dzikir dan doa-doa seperti biasa, dan dilanjutkan khotbah oleh Bapak. Ketika Bapak khotbah, Bapak sering sekali menyanjung kami mahasiswa dari IAIN Surakarta yang justru membuat kami menjadi tidak enak hati. Bapak khotbah sampai memasuki waktu isya', jadi kami langsung sholat isya berjamaah. Seusai sholat isya, terdapat acara latihan khotbah oleh para santri. Para santri yang sudah diberi jadwal berkhotbah akan maju secara bergiliran.
Karena kebetulan malam itu malam jum'at atau kamis malam, setelah selesai acara khotbah dilanjutkan dengan yasinan dan tahlilan. Kemudian dilanjutkan bersholawatan bersama yang dilengkapi dengan iringan hadroh juga. Saat bersholawat ini saya dan teman-teman mengunjungi rumah Bapak untuk sedikit bertanya-tanya mengenai ponpes tersebut. Dari sinilah kami tahu banyak mengenai ponpes tersebut. Seusai bertanya-tanya, kami kembali ke masjid untuk mengikuti acara selanjutnya sampai benar-benar selesai seluruh acara. Acara selesai sekitar pukul 10 malam, dan kami tidak langsung tidur. Di dalam kamar, kami berlima masih mengobrol dan bercanda sampai sekitar pukul satu dini hari barulah kami tidur.
Keesokan harinya, kegiatan dimulai dari pukul 3 dini hari untuk melaksanakan sholat tahajud dan beberapa sholat malam lain, dan dilanjutkan dengan kegiatan masing-masing sampai memasuki waktu sholat subuh. Usai sholat subuh berjamaah para santri membaca Al-Qur'an sambil menghafal untuk setoran sampai matahari terbit. Kemudian para santri yang mendapat jatah piket hari itu mulai membersihkan pekarangan dan jalan depan ponpes, sedangkan sisanya memasak di dapur. Setelah itu para santri sarapan bersama dan dilanjutkan dengan kegiatan masing-masing, seperti bersiap ke sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan kami berjalan-jalan di depan ponpes dan menikmati sejuknya udara di pagi hari di sekitar ponpes. Setelah itu, kami kembali ke kamar, kemudian sarapan bersama dengan lauk yang seperti dilebih-lebihkan membuat kami merasa semakin merepotkan dan tidak enak hati.
Karena kami merasa semakin merepotkan, sebelum masuk waktu sholat jum'at kami sudah berpamitan pulang. Sebelum pulang, kami sempat berfoto bersama Ibuk dan beberapa santri putri. Saya merasa sangat berkesan dan memiliki pengalaman baru yang sangat berharga. Sebelum pulang saya sempat sedikit bersedih dan merasa ingin tinggal lebih lama lagi. Saya pun bilang kepada diri saya sendiri bahwa kelak entah kapan, saya ingin mengunjungi tempat ini lagi, karena saya merasa telah bertemu dengan keluarga baru yang sangat baik kepada saya. Senang rasanya bisa dipertemukan dengan orang-orang baik seperti beliau-beliau ini. Terima kasih ponpes Nurul Qur'an atas pengalaman yang sangat berharga.
Artikel ini murni saya buat sendiri, dan berikut ini adalah hasil cek plagiarisme.
Sabtu, 24 Maret 2018
Kamis, 22 Maret 2018
Terkikisnya Pengetahuan Orang Jawa Mengenai Aksara Jawa
Nama : Indah Bekti Wijayanti
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Terkikisnya Pengetahuan Orang Jawa Mengenai Aksara Jawa
Kita akan membahas mengenai sebuah hal yang terkesan tidak terlalu penting, tetapi apabila tidak diubah, kebiasaan tersebut bisa saja menjadi masalah yang cukup berarti. Kebiasaan masyarakat kebanyakan di suatu daerah yang kurang peduli terhadap sebuah pengetahuan yang cukup berharga. Pengetahuan mengenai sebuah gaya menulis menggunakan aksara, bukan abjad biasa. Aksara dari wilayah Jawa yang memiliki bentuk unik dan bermacam-macam yang mengandung bunyi tertentu di masing-masing bentuknya. Ya, aksara jawa.
Menurut Wikipedia, aksara jawa adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang biasa digunakan di wilayah Jawa khususnya. Aksara jawa utamanya berjumlah 20 buah, yang bunyinya terdiri dari ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Aksara jawa yang berbunyi semacam ini biasanya digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara aksara di daerah Jawa Barat, memiliki bunyi yang sedikit berbeda.
Untuk membuat tulisan atau suatu kalimat menggunakan aksara jawa tidak cukup hanya menggunakan aksara utama saja. Dibutuhkan pelengkap untuk bisa membuatnya menjadi bervokal u, i, e, dan o, atau bahkan membuatnya agar tidak bervokal atau konsonan, yang biasa disebut dengan sandangan. Selain huruf, untuk bentuk angka juga terdapat dalam aksara jawa, dan untuk menggunakan aksara angka juga terdapat aturan tersendiri. Di saat membuat kalimat aksara jawa, di awal dan akhir kalimat juga harus menggunakan karakter tersendiri.
Sekilas memang terlihat mudah-mudah saja membuat kalimat atau menulis menggunakan aksara jawa, tetapi sebenarnya membutuhkan pemahaman lebih agar kalimat yang kita buat bisa benar-benar sempurna. Selain itu, banyaknya aturan yang harus diterapkan saat menulis, juga bermacam-macam bentuk aksara yang harus dihafalkan, menambah kesulitan tersendiri yang mungkin akan membuat kita malas untuk menggunakan aksara jawa.
Maka wajar apabila di zaman sekarang ini, cukup jarang ditemukan suatu karya tulis menggunakan aksara jawa yang dibuat oleh generasi muda. Sebenarnya sesulit apapun, apabila dipelajari sengguh-sungguh dan dibiasakan menulis menggunakan aksara jawa, bisa saja menjadi ahli aksara jawa dengan mudah. Apalagi ditambah dengan pelajaran Bahasa Jawa yang tentu saja mengandung materi mengenai aksara jawa, telah diajarkan sejak Sekolah Dasar ini tentu lebih menambah kemudahan bagi kita, khususnya orang jawa untuk mempelajari dan memahami tentang aksara jawa.
Lantas apa yang membuat kita para generasi muda saat ini kebanyakan tidak mahir dalam menulis menggunakan aksara jawa, bahkan ingatan tentang bentuk aksara jawa pun telah terkikis, sementara kita sudah mendapatkan ajaran aksara jawa sejak SD? Itu karena, kebanyakan generasi muda saat ini, mempelajari aksara jawa hanya dianggap sebagai formalitas dan hanya dibutuhkan untuk memenuhi standar kelulusan, bukan untuk menambah pengetahuan ataupun melestarikan aksara jawa.
Selain itu, kurangnya penerapan dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan salah satu penyebab terkikisnya pengetahuan kita mengenai aksara jawa. Apabila saat ini kalian bertanya-tanya untuk apa bersusah payah mempelajari aksara jawa? Sementara menulis menggunakan huruf abjad biasa sangatlah mudah. Aksara jawa merupakan salah satu harta warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Tidakkah sayang sekali apabila aksara jawa akan hilang dari Jawa nantinya?
Jangan menunggu sampai negara lain atau wilayah lain mengakui sisi aksara jawa sebagai milik mereka. Jangan salahkan mereka, sementara mereka lebih mahir daripada kita sebagai orang jawa, dan kita tidak menjaganya dengan baik. Apakah setelah hal itu terjadi, barulah kita berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan aksara jawa? Sudah terlambat, karena mereka telah mengakuinya dan lebih menguasai tentang hal tersebut. Harusnya, mulai sekarang kita sudah harus mulai berusaha untuk melestarikan aksara jawa.
Salah satunya dengan membentuk komunitas-komunitas pelukis aksara jawa, karena kaligrafi tidak hanya selalu menggunakan huruf arab, tetapi juga bisa menggunakan aksara jawa. Atau mungkin memproduksi karya tulis yang membahas tentang budaya Jawa, sehingga kita bisa menggunakan aksara jawa untuk metode penulisannya, dan juga masih banyak lagi cara lain yang bisa digunakan untuk melestarikan aksara jawa.
Untuk itu kita sebagai generasi muda, marilah mulai mengingat cara menulis menggunakan aksara jawa, dan mulai mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak hilang dari ingatan. Walaupun untuk menghafal dan mengingat peraturan-peraturan dalam menulis aksara jawa itu cukup sulit, tetapi apabila dibiasakan dan dibarengi dengan minat yang kuat dan juga fokus dengan tujuan, tentu hal tersebut tidak menjadi sulit lagi bahkan bisa menjadi sangat mudah, tergantung diri kita masing-masing.
Dengan mempelajari aksara jawa, selain kita bisa melestarikan warisan budaya dan menambah keahlian, kita juga bisa mengambil manfaat lain, seperti mengajarkan kepada anak dan cucu kita kelak. Setidaknya kita tidak malu ketika anak ataupun cucu kita kelak menanyakan pekerjaan rumah yang didapatkannya dari sekolahan mengenai aksara jawa, kita jadi bisa membantunya untuk menyelesaikan PR tersebut. Selain itu, kita juga bisa membuat karya-karya hiasan yang bertemakan aksara jawa, seperti lukisan, kaligrafi, grafiti, dan lain sebagainya. Tergantung sekreatif apa kita memanfaatkan aksara jawa, agar dapat memberi keuntungan bagi kita, sambil melestarikan budaya sendiri, dan tidak hanya bangga dengan budaya asing.
Ironis memang, ketika generasi muda saat ini jauh lebih bangga dengan budaya asing daripada budayanya sendiri. Padahal apabila kita mau sedikit berbeda dengan orang lain kebanyakan, kita bisa menemukan keasyikan tersendiri dengan mempelajari budaya sendiri. Juga banyak manfaat yang bisa kita ambil untuk diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Sangat menarik bukan untuk mempelajari aksara jawa? Maka dari itu, marilah mulai kembali mengingat aksara jawa yang telah kita pelajari dan mulai mencari cara agar tidak sampai hilang dari ingatan.
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Terkikisnya Pengetahuan Orang Jawa Mengenai Aksara Jawa
Kita akan membahas mengenai sebuah hal yang terkesan tidak terlalu penting, tetapi apabila tidak diubah, kebiasaan tersebut bisa saja menjadi masalah yang cukup berarti. Kebiasaan masyarakat kebanyakan di suatu daerah yang kurang peduli terhadap sebuah pengetahuan yang cukup berharga. Pengetahuan mengenai sebuah gaya menulis menggunakan aksara, bukan abjad biasa. Aksara dari wilayah Jawa yang memiliki bentuk unik dan bermacam-macam yang mengandung bunyi tertentu di masing-masing bentuknya. Ya, aksara jawa.
Menurut Wikipedia, aksara jawa adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang biasa digunakan di wilayah Jawa khususnya. Aksara jawa utamanya berjumlah 20 buah, yang bunyinya terdiri dari ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Aksara jawa yang berbunyi semacam ini biasanya digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sementara aksara di daerah Jawa Barat, memiliki bunyi yang sedikit berbeda.
Untuk membuat tulisan atau suatu kalimat menggunakan aksara jawa tidak cukup hanya menggunakan aksara utama saja. Dibutuhkan pelengkap untuk bisa membuatnya menjadi bervokal u, i, e, dan o, atau bahkan membuatnya agar tidak bervokal atau konsonan, yang biasa disebut dengan sandangan. Selain huruf, untuk bentuk angka juga terdapat dalam aksara jawa, dan untuk menggunakan aksara angka juga terdapat aturan tersendiri. Di saat membuat kalimat aksara jawa, di awal dan akhir kalimat juga harus menggunakan karakter tersendiri.
Sekilas memang terlihat mudah-mudah saja membuat kalimat atau menulis menggunakan aksara jawa, tetapi sebenarnya membutuhkan pemahaman lebih agar kalimat yang kita buat bisa benar-benar sempurna. Selain itu, banyaknya aturan yang harus diterapkan saat menulis, juga bermacam-macam bentuk aksara yang harus dihafalkan, menambah kesulitan tersendiri yang mungkin akan membuat kita malas untuk menggunakan aksara jawa.
Maka wajar apabila di zaman sekarang ini, cukup jarang ditemukan suatu karya tulis menggunakan aksara jawa yang dibuat oleh generasi muda. Sebenarnya sesulit apapun, apabila dipelajari sengguh-sungguh dan dibiasakan menulis menggunakan aksara jawa, bisa saja menjadi ahli aksara jawa dengan mudah. Apalagi ditambah dengan pelajaran Bahasa Jawa yang tentu saja mengandung materi mengenai aksara jawa, telah diajarkan sejak Sekolah Dasar ini tentu lebih menambah kemudahan bagi kita, khususnya orang jawa untuk mempelajari dan memahami tentang aksara jawa.
Lantas apa yang membuat kita para generasi muda saat ini kebanyakan tidak mahir dalam menulis menggunakan aksara jawa, bahkan ingatan tentang bentuk aksara jawa pun telah terkikis, sementara kita sudah mendapatkan ajaran aksara jawa sejak SD? Itu karena, kebanyakan generasi muda saat ini, mempelajari aksara jawa hanya dianggap sebagai formalitas dan hanya dibutuhkan untuk memenuhi standar kelulusan, bukan untuk menambah pengetahuan ataupun melestarikan aksara jawa.
Selain itu, kurangnya penerapan dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan salah satu penyebab terkikisnya pengetahuan kita mengenai aksara jawa. Apabila saat ini kalian bertanya-tanya untuk apa bersusah payah mempelajari aksara jawa? Sementara menulis menggunakan huruf abjad biasa sangatlah mudah. Aksara jawa merupakan salah satu harta warisan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Tidakkah sayang sekali apabila aksara jawa akan hilang dari Jawa nantinya?
Jangan menunggu sampai negara lain atau wilayah lain mengakui sisi aksara jawa sebagai milik mereka. Jangan salahkan mereka, sementara mereka lebih mahir daripada kita sebagai orang jawa, dan kita tidak menjaganya dengan baik. Apakah setelah hal itu terjadi, barulah kita berbondong-bondong mempelajari dan menggunakan aksara jawa? Sudah terlambat, karena mereka telah mengakuinya dan lebih menguasai tentang hal tersebut. Harusnya, mulai sekarang kita sudah harus mulai berusaha untuk melestarikan aksara jawa.
Salah satunya dengan membentuk komunitas-komunitas pelukis aksara jawa, karena kaligrafi tidak hanya selalu menggunakan huruf arab, tetapi juga bisa menggunakan aksara jawa. Atau mungkin memproduksi karya tulis yang membahas tentang budaya Jawa, sehingga kita bisa menggunakan aksara jawa untuk metode penulisannya, dan juga masih banyak lagi cara lain yang bisa digunakan untuk melestarikan aksara jawa.
Untuk itu kita sebagai generasi muda, marilah mulai mengingat cara menulis menggunakan aksara jawa, dan mulai mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak hilang dari ingatan. Walaupun untuk menghafal dan mengingat peraturan-peraturan dalam menulis aksara jawa itu cukup sulit, tetapi apabila dibiasakan dan dibarengi dengan minat yang kuat dan juga fokus dengan tujuan, tentu hal tersebut tidak menjadi sulit lagi bahkan bisa menjadi sangat mudah, tergantung diri kita masing-masing.
Dengan mempelajari aksara jawa, selain kita bisa melestarikan warisan budaya dan menambah keahlian, kita juga bisa mengambil manfaat lain, seperti mengajarkan kepada anak dan cucu kita kelak. Setidaknya kita tidak malu ketika anak ataupun cucu kita kelak menanyakan pekerjaan rumah yang didapatkannya dari sekolahan mengenai aksara jawa, kita jadi bisa membantunya untuk menyelesaikan PR tersebut. Selain itu, kita juga bisa membuat karya-karya hiasan yang bertemakan aksara jawa, seperti lukisan, kaligrafi, grafiti, dan lain sebagainya. Tergantung sekreatif apa kita memanfaatkan aksara jawa, agar dapat memberi keuntungan bagi kita, sambil melestarikan budaya sendiri, dan tidak hanya bangga dengan budaya asing.
Ironis memang, ketika generasi muda saat ini jauh lebih bangga dengan budaya asing daripada budayanya sendiri. Padahal apabila kita mau sedikit berbeda dengan orang lain kebanyakan, kita bisa menemukan keasyikan tersendiri dengan mempelajari budaya sendiri. Juga banyak manfaat yang bisa kita ambil untuk diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Sangat menarik bukan untuk mempelajari aksara jawa? Maka dari itu, marilah mulai kembali mengingat aksara jawa yang telah kita pelajari dan mulai mencari cara agar tidak sampai hilang dari ingatan.
Senin, 26 Februari 2018
Telaah Kitab Sunan An Nasa'i
Nama : Indah Bekti Wijayanti
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Judul Kitab : Terjamah Sunan An-Nasa'iy
Penerbit : CV. Asy Syifa' - Semarang
Tahun : 1992
Telaah Kitab Sunan An Nasa'i
A. Nampak Luar.
Dari luar kitab ini terlihat sudah lama dan sedikit lusuh. Sampulnya dicetak sangat tebal seperi terdapat papan di dalamnya, seperti kitab-kitab lainnya. Karena sudah termakan usia, sampul kitab ini terdapat beberapa goresan di beberapa tempat. Selain itu, kitab ini juga terlihat lumayan tebal, dan agak berat. Sementara warna sampulnya, terlihat campuran antara warna coklat, biru, dan keemasan yang ditambah beberapa garis berwana merah.
B. Nampak Dalam.
Pertama kali membuka kitab, aroma khas kitab yang sudah lama tercium, sedikit apek dan menyengat. Setelah saya buka-buka ternyata ada beberapa halaman yang robek, bahkan hilang. Kertasnya terlihat berwarna coklat, entah memang berwarna seperti ini atau karena termakan usia. Sistem penulisannya dibuat huruf arab di bagian atas, lalu terjemahnya di bagian bawah dan terdapat nomor hadis, serta terdapat nomor halaman di pojok bawah bagian luar. Dalam kitab ini, di dalamnya terdapat lebih dari seribu hadis dan dibagi kedalam beberapa bab, dan pada di setiap hadis diberi angka. Di dalam kitab ini banyak ditemukan suatu hadis yang muncul lebih dari satu kali di beberapa tempat.
C. Sistem Penulisan.
Materi pada hadis di kitab ini diutamakan menyangkut tentang bagaimana kehidupan yang beragama. Kitab ini menggunakan metode sunan, sesuai dengan nama kitab tersebut. Metode sunan adalah metode menyusun kitab hadis dengan mengklasifikasikan hukum Islam dan hanya memasukkan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad saw. Dan masing-masing kumpulan hadis yang satu materi diberi judul sub bab yang berdasarkan analisis dari Imam An-Nasa’i.
D. Contoh Hadis.
Berikut ini ada salah satu hadis yang terdapat dalam kitab Sunan An-Nasa'i, pada halaman 267 hadis ke-1581 dalam bab "dianjurkan untuk qiyaamul lail". Hadis ini cukup terkenal dan sering dibawakan oleh penceramah dalam berdakwah, dan seperti yang sudah tercantum, hadis tersebut memerintahkan kita untuk melakukan qiyaamul lail, atau sholat malam, seperti tahajud dan witir. Betapa mulianya sholat malam karena bisa membersihkan jiwa dan ketika pagi hari hendak beraktivitas menjadi bersemangat. Sebaliknya, jika kita tertidur sampai subuh atau bahkan sampai fajar, maka jiwa kita akan kotor dan kurang bersemangat untuk beraktivitas.
E. Biografi Singkat Imam An-Nasa'i.
Memiliki nama asli Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi. Dan dengan nama kuniyah Abu Abdirrahman. Nasabnya adalah An Nasa`i dan An Nasawi, ini merupakan nisbah kepada tempat Imam An-Nasa'i di lahirkan, yakni di suatu kota yang berada di Khurasan. Imam An Nasa`i adalah seseorang yang tampan, memiliki wajah yang senantiasa bersih serta terlihat segar, kulitnya kemerah-merahan dan suka mengenakan pakaian dengan motif bergaris buatan Yaman. Beliau adalah seorang yang kharismatik, tenang dan berpenampilan menarik.
Imam Nasa`i berkeliling ke negara-negara Islam untuk mencari pengetahuan, dari timur hingga ke barat, karena itulah beliau mendapat pengajaran banyak hadis dari para penghafal Al-Qur'an dan Syeh atau seseorang yang sangat mendalami agama Islam di berbagai tempat. Satu tahun sebelum wafatnya, imam An-Nasa'i pindah dari Mesir ke Damsyik. Belum ada kepastian tentang dimana sebenarnya imam An-Nasa'i meninggal. Namun banyak yang mengatakan imam An-Nasa'i meninggal di Makkah dan dimakamkan diantara Shafa dan Marwah.
F. Refleksi.
Setelah menelaah kitab Sunan An-Nasa'i ini saya menjadi banyak tahu beberapa hadis yang belum pernah saya ketahui. Terus terang saya baru pertama kali ini membuka dan membaca kitab hadis, ternyata sangat menyenangkan karena sangat menambah ilmu. Kita jadi tahu tentang beberapa hal menyangkut keseharian dan bertingkah laku menggunakan dasar yang pasti. Walaupun saat mencari kitab ini sedikit kesulitan, tetapi terbayar dengan pengetahuan yang didapatkan. Dan saya berharap semoga tulisan ini beramanfaat bagi kita bersama.
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Judul Kitab : Terjamah Sunan An-Nasa'iy
Penerbit : CV. Asy Syifa' - Semarang
Tahun : 1992
Telaah Kitab Sunan An Nasa'i
A. Nampak Luar.
Dari luar kitab ini terlihat sudah lama dan sedikit lusuh. Sampulnya dicetak sangat tebal seperi terdapat papan di dalamnya, seperti kitab-kitab lainnya. Karena sudah termakan usia, sampul kitab ini terdapat beberapa goresan di beberapa tempat. Selain itu, kitab ini juga terlihat lumayan tebal, dan agak berat. Sementara warna sampulnya, terlihat campuran antara warna coklat, biru, dan keemasan yang ditambah beberapa garis berwana merah.
B. Nampak Dalam.
Pertama kali membuka kitab, aroma khas kitab yang sudah lama tercium, sedikit apek dan menyengat. Setelah saya buka-buka ternyata ada beberapa halaman yang robek, bahkan hilang. Kertasnya terlihat berwarna coklat, entah memang berwarna seperti ini atau karena termakan usia. Sistem penulisannya dibuat huruf arab di bagian atas, lalu terjemahnya di bagian bawah dan terdapat nomor hadis, serta terdapat nomor halaman di pojok bawah bagian luar. Dalam kitab ini, di dalamnya terdapat lebih dari seribu hadis dan dibagi kedalam beberapa bab, dan pada di setiap hadis diberi angka. Di dalam kitab ini banyak ditemukan suatu hadis yang muncul lebih dari satu kali di beberapa tempat.
C. Sistem Penulisan.
Materi pada hadis di kitab ini diutamakan menyangkut tentang bagaimana kehidupan yang beragama. Kitab ini menggunakan metode sunan, sesuai dengan nama kitab tersebut. Metode sunan adalah metode menyusun kitab hadis dengan mengklasifikasikan hukum Islam dan hanya memasukkan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad saw. Dan masing-masing kumpulan hadis yang satu materi diberi judul sub bab yang berdasarkan analisis dari Imam An-Nasa’i.
D. Contoh Hadis.
Berikut ini ada salah satu hadis yang terdapat dalam kitab Sunan An-Nasa'i, pada halaman 267 hadis ke-1581 dalam bab "dianjurkan untuk qiyaamul lail". Hadis ini cukup terkenal dan sering dibawakan oleh penceramah dalam berdakwah, dan seperti yang sudah tercantum, hadis tersebut memerintahkan kita untuk melakukan qiyaamul lail, atau sholat malam, seperti tahajud dan witir. Betapa mulianya sholat malam karena bisa membersihkan jiwa dan ketika pagi hari hendak beraktivitas menjadi bersemangat. Sebaliknya, jika kita tertidur sampai subuh atau bahkan sampai fajar, maka jiwa kita akan kotor dan kurang bersemangat untuk beraktivitas.
E. Biografi Singkat Imam An-Nasa'i.
Memiliki nama asli Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin Bahr al-Khurasani al-Qadi. Dan dengan nama kuniyah Abu Abdirrahman. Nasabnya adalah An Nasa`i dan An Nasawi, ini merupakan nisbah kepada tempat Imam An-Nasa'i di lahirkan, yakni di suatu kota yang berada di Khurasan. Imam An Nasa`i adalah seseorang yang tampan, memiliki wajah yang senantiasa bersih serta terlihat segar, kulitnya kemerah-merahan dan suka mengenakan pakaian dengan motif bergaris buatan Yaman. Beliau adalah seorang yang kharismatik, tenang dan berpenampilan menarik.
Imam Nasa`i berkeliling ke negara-negara Islam untuk mencari pengetahuan, dari timur hingga ke barat, karena itulah beliau mendapat pengajaran banyak hadis dari para penghafal Al-Qur'an dan Syeh atau seseorang yang sangat mendalami agama Islam di berbagai tempat. Satu tahun sebelum wafatnya, imam An-Nasa'i pindah dari Mesir ke Damsyik. Belum ada kepastian tentang dimana sebenarnya imam An-Nasa'i meninggal. Namun banyak yang mengatakan imam An-Nasa'i meninggal di Makkah dan dimakamkan diantara Shafa dan Marwah.
F. Refleksi.
Setelah menelaah kitab Sunan An-Nasa'i ini saya menjadi banyak tahu beberapa hadis yang belum pernah saya ketahui. Terus terang saya baru pertama kali ini membuka dan membaca kitab hadis, ternyata sangat menyenangkan karena sangat menambah ilmu. Kita jadi tahu tentang beberapa hal menyangkut keseharian dan bertingkah laku menggunakan dasar yang pasti. Walaupun saat mencari kitab ini sedikit kesulitan, tetapi terbayar dengan pengetahuan yang didapatkan. Dan saya berharap semoga tulisan ini beramanfaat bagi kita bersama.
Dan ini adalah bukti hasil dari pengecekan plagiarisme, untuk menghindari plagiarisme. Memang terdapat kemiripan, ini karena saya mencantumkan nama asli dari imam An-Nasa'i yang tentu saja tidak bisa saya ubah.
Senin, 05 Februari 2018
Resume "Metodologi Studi Islam - Dr. Ismail Yahya, MA"
Nama : Indah Bekti Wijayanti
NIM : 175231011
Kelas : PBS 2A
Sumber
Judul Buku :
Metodologi Studi Islam
Penarang :Dr.Ismail
Yahya, MA
Penerbit :
Kaukaba Dipantara
Cetakan 1 :
Mei 2016
Jumlah Halaman :
68 halaman
ISBN
:978-602-1508-58-9
Bab I. Islam dan Ilmu
Pengetahuan
1.1 Dorongan Islam Mencari
Ilmu Pengetahuan
Islam
sangat mendorong umatnya untuk mencari ilmu. Al-Qur'an dan Hadis Nabi Muhammad memerintahkan
umat Islam untuk 'membaca' dan 'mencari ilmu sejak buaian hingga ke liang lahad,'
walaupun 'mencari ilmu itu ke negeri Cina', karena 'mencari ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap
Muslim,' Allah juga menjanjikan 'siapa saja berjalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan
jalannya menuju surga.'
Dengan
dorongan ini, orang-orang Islam termotovasi mencari ilmu dengan suka dan duka
melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain yang mungkin belum pernah
terjadi di dalam peradaban manusia lainnya. Kisah-kisah perjalanan para ulama
dalam mencari ilmu banyak diceritakan di dalam buku-buku. Di dalam ar-Rihlah fi
Talab al-Hadis, Al-Baghdadi menceritakan kedudukan ilmu.
Sementara
Abdul Fattah dalam Safahat min Sabr al-Ulama juga menceritakan perjuangan suka
dan duka para sahabat dan tabiin serta para ulama dalam mencari ilmu. Lain
halnya dengan Abdul Aziz dalam Ma'alim fi Tariq Talab al-Ilm menjelaskan
tentang adab-adab yang haris diperhatikan oleh pencari ilmu. Etika mencari ilmu
pengetahuan di dalam Al-Qur'an adalah bahwa ilmu harus dicari dari sumbernya yang
asli.
1.2 Pusat Pengetahuan dan Pendidikan Islam
1.2.1 Wilayah
Timur (Madinah, Syam, Baghdad, Persia, Mesir)
Madinah
sebagai kota Nabi harus kita sebut pertama kali sebagai pusat pengetahuan dan
pendidikan Islam. Gairah keilmuan berkembang dengan pesat di Madinah sejak
kedatangan Nabi. Di masjid Nabawi, beliau membangun Suffah; sebuah tempat
berteduh bagi orang Islam yang miskin. Bentuknya seperti sekolah malam di mana 'Ubadah
ibn ash-Shamit mengajari mereka menulis dan membaca Al-Qur'an. Disinilah Nabi memulai
pemberantasan buta huruf dalam islam.
Al-Qur'an
merupakan ilmu yang pertama kali ditekuni oleh para sahabat di Madinah. Mereka
menghafal Al-Qur'an yang dibaca setiap shalat. Hadis juga digunakan menjadi
pedoman para sahabat disamping Al-Qur'an untuk masalah halal haram, akidah,
ibadah, dll. Ilmu tentang nasab (keturunan) merupakan ilmu yang didorong oleh
Nabi untuk dipelajari, disamping ilmu faraidh (waris), ilmu falak untuk
membantu ketepatan ibadah, dan ilmu bahasa asing.
Perluasan
kekuasaan Islam dengan cepat terjadi dan bermula dari pusatnya di Madinah.
Periode antara tahun 750-1150 M merupakan periode keemasan dunia Islam. Pada
masa Umar bin Khattab (w.643) menjadi Khalifah, perluasan wilayah Islam dimulai
dengan penaklukan. Dawlah Umayyah memindahkan ibukota kemaharajaan Islam ke
Damaskus selama 88 tahun. Selama periode Umayyah, pembahasan dalam masalah fiqh
dirujuk kepada Al-Qur'an, belum banyak dicurahkan kepada Hadis. Karya-karya
sejarah awal menggarap tema Maghazi (ekspedisi Nabi).
Tokoh
terkemuka pada periode ini dalam bidang ilmu antara lain Ibnu Abbas (619-687)
di Mekkah, spesialisasinya adalah Tafsir Al-Qur'an, muridnya antara lain
Ikrimah (w.723), Muhajid (w.721), dan Atha' bin Abi Rabah (w.732). Zaid bin Tsabit
(611-666) menguasai bahasa Syriac dan Ibrani, dan Abdullah bin Umar (w.693)
muridnya yaitu Muhammad bin Syihab az-Zuhri (670-742) karyanya yang tersisa
seringkali dikutip oleh Ibnu Ishaq dan At-Thabari. Ada sahabat yang menonjol
pengetahuannya mengenai naskah Al-Qur'an yaitu Abu Darda' (w.652) dan Ibn Amir(w.736).
Dalam bidang fiqh terdapat Makhul (w.731) dan muridnya Al-Awza'i (w.774).
Mesir
memainkan peran sangat kecil dalam kehidupan intelektual periode Umayyah. Baru
pada masa dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syiah, setelah panglima Jauhar
ash-Shiqilli menaklukan Mesir kemudian membangun Masjid tahun 970 M yang
dinamakan Al-Azhar. Dawlah Abbasiyah yang menggantikan dawlah Umayyah merupakan
periode keemasan sejarah intelektual Islam.
1.2.2 Wilayah
Barat : Cordova
Khalifah
Umayyah memulai perluasan ke Afrika Utara dan menyebrang ke Andalusia dan
berhasil ditaklukan pada tahun 711. Pada 756, Abdurrahman I (Ad-Dakhil)
pangeran khalifah Umayyah di Damaskus melarikan diri menuju Andalusia dan
menjadi khalifah disana. Kemudian menjadi menara ilmu dan kemajuan Islam.
1.3 Organisasi Pendidikan Islam
1. Halaqah : Membentuk
setengah lingkaran menghadap guru yang membelakangi tembok atau tiang.
2. Maktab atau
Kuttab (sekolah menulis) : Berkumpul di rumah guru untuk belajar membaca dan
menulis. Telah ada sebelum Islam.
3. Sekolah Istana : Diselenggarakan
di istana kerajaan.
4. Sekolah Masjid :
Belajar di masjid.
5. Sekolah Toko Buku
: Toko buku seperti halnya perpustakaan.
6. Sanggar Sastra :
tempat khusus untuk bertukar pikiran tentang sastra dan ilmu pengetahuan.
7. Madrasah : tempat
mempelajari pelajaran tingkat tinggi.
8. Universitas : Puncak
kejayaan ilmu pengetahuan di zaman klasik Islam.
Bab II. Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Dunia Islam
Pada masa Nabi
ilmu-ilmu wajib diajarkan meliputi menelaah Al-Qur'an, menghafal Hadis, bahasa
Arab dan adab serta masalah pengobatan. Ilmu yang pertama-tama berkembang pada
masa Khalifah Umayyah adalah ilmu-ilmu agama, seperti : Al-Qur'an dan tafsir, ilmu
tafsir, ilmu qira'ah, fiqh, nahwu (tatabahasa Arab), hadis dan ilmunya, ilmu
penulisan kamus bahasa. Sedangkan pada masa Khalifah Abbasiyyah perhatian
diarahkan kepada penguasaan terhadap ilmu intelektual dan filsafat.
Melalui
ijtihad ilmu-ilmu agama Islam berkembang sampai sekarang dengan kita kenal
seperti : Ulum Al-Qur'an, Ulum al-Hadis, ilmu Tauhid, ilmu Fiqh, dll. Para
ilmuwan Islam awal telah membuat klasifikasi ilmu menurut kriteria masing-masing.
Dengan penjelasan klasifikasi ilmu dalam Islam terlihat bahwa semua rumpun ilmu
pernah ada dan berkembang dalam sejarah
keilmuan Islam.
Al-Qur'an
tentang alam semesta yang tertuang dalam 750 ayat cukup membuktikan bahwa ilmu
alam tidak sebanding dengan imu keislaman (ulum al-din). Namun melalui
ilmu-ilmu alam ini sederet nama saintis Muslim terus tercatat dalam bidanh
kedokteran, kimia, fisika, astronomi, matematika, dll. Ilmu-ilmu sosial sempat
berkembang dalam peradaban Islam berkat Ibnu Khaldun dalam karyanya Muqaddimah
yang membuatnya dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi dan Filosof sejarah.
Al-Jabiri dalam
Bunyah al-Aql Arabi memetakan struktur pemikiran Arab ke dalam tiga sistem
pengetahuan (nalar): bercorak retoris atau dialektis (bayani), bercorak demonstratif
(burhani), dan bercorak gnosis (irfani). Al-Jabiri menganggap bahwa model
bayani lah yanh merupakan ciri ilmu Islam klasik.
Metode
hafalan dan tulisan merupakan dua cara dalam tradisi Islam untuk melestarikan ajaran
agama. Di Arab tradisi tulis menulis sudah ada sebelum Islam. Mereka menukis
hutang-piutang, perjanjian, sumpah, buku agama, silsilah, dan korespondensi
pribadi. Tradisi tulis menulis di Arab ini semakin pesat berkembang setelah
kedatangan Islam, dan peradaban Muslim adalah peradaban tulis. Muncul tradisi
syarh (komentar) dan hasyiyah (komentar atas komentar). Syarh merupakan karya
tulis berupa kitab yang mengomentari karya lain. Dan sebuah karya syarh membuka
peluang untuk munculnya hasyiyah yakni syarh diatas syarh.
Sebagian
besar isi buku-buku Islam disuguhkan sebagai tradisi yang ditularkan dari satu
generasi ke generasi lain. Penulis memilih dari catatannya apa-apa yanh
dianggapnya berguna, menyebutkan sumber yang menyampaikan itu, seterusnya
hingga kepada sumber aslinya. Pencatatan rentetan perawi (isnad) yang amat
hati-hati ini mencermikan tradisi lisan yang terus berlanjut. Ini juga sebagai
jaminan berlangsungnya transmisi ilmu.
Sanad penting
dalam transmisi ilmu dalam sejarah Islam. Sekarang tentang metode merujuk
pendapat orang lain yang sering di istilahkan dengan iqtibas (kutipan). Kata
intaha (selesai) umumnya menunjuk kepada akhir kutipan. Para pengarang
mengizinkan untuk mempersingkat kutipan, atau menyelang-nyelingkan dengan
pernyataan mereka sendiri menurut apa yang mereka anggap lebih memudahkan.
Bab III. Ilmu-ilmu Keislaman : Metode dan Sumber
Secara
umum teks baik Al-Qur'an dan Hadis, sebagai pondasi aski nilai-nilai masyarakat
Islam, merupakan objek pengkajian yang dilakukan oleh ulama, terlebih setelah
dilakukan pembukuan, dengan basis pendekatan: kebahasan dan periwayatan.
Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi'i (150-204) dalam bidang Ushul Fiqh dianggap
sebagai kerya awal yang membahas pertanyaan tentang metode ilmiah.
Asy-Syafi'i
mengidentifikasikan dua sumber pengetahuan utama : pengetahuan yanh terdapat di
dalam nash/teks dan pengetahuan deduktif (istinbath). Klasifikasi Asy-Syafi'i
banyak digunakan dalam ilmu-ilmu keislaman seperti ushul fiqh, ilmu ma'ani (tentang
makna atau semantik), ilmu tafsir Al-Qur'an, dan kritik sastra. Di bawah judul
Al-Bayan ini, Asy-Syafi'i memperkenalkan tingkat-tingkat perbedaan kejelasan
teks Al-Qur'an. Tingkat pertama adalah teks yang jelas (bayyin). Tingkat kedua
adalah yang tampak (zahir). Tingkat ketiga yaitu global (mujmal).
Selain
pendekatan kebahasaan, pendekatan periwayatan yang diperkenalkan oleh para ahli
Hadis (Muhaddisun) berpengaruh kuat dalam tradisi keilmuan Islam baik pada ilmu
tafsir, hadis, fiqh, kalam, tasawuf, dan bahkan sejarah. Periwayatan merupakan
segala sesuatu yang telah tetap dengan penukilan atau penyampaian dari Al-Qur'an,
atau dari Nabi Muhammad, atau sahabat, atau tabiin dengan metode menyebutkan
ungkapan-ungkapan yang disandarkan kepada pemiliknya.
Dan ini bukti hasil cek di plagramme:
Sekian, semoga bermanfaat.
Selasa, 21 November 2017
Bongkar Pasang Masjid Syuhada dan Perkembangan Agama Islam di Kampung Kroyo.
Nama : Indah Bekti Wijayanti
Kelas : 1A PBS
Masjid Syuhada terletak di kampung Kroyo rt: 01 / rw: 01,
kelurahan Kroyo, kecamatan Karangmalang, kabupaten Sragen. Masjid yang telah
mengalami pembongkaran dan pembangunan kembali ini merupakan masjid pertama di
kampung Kroyo. Entah apa alasannya masjid ini sering direnovasi. Masjid ini juga
memiliki keunikan lain, yakni adanya makhluk-makhluk ghaib yang sering
diperbincangkan banyak orang, lalu tentang pengaruh masjid yang sangat membantu
dalam perkembangan agama di kampung Kroyo, juga tentang pembangunannya.
Saya mendapatkan informasi tentang masjid ini dari Bapak
Subandi, yang biasa dipanggil Pak Bandi, selaku takmir masjid Syuhada, dan
tempat tinggal beliau juga berdekatan dengan masjid. Beliau berumur sekitar 40
tahun, namun beliau sangat terkenal namanya dikampung Kroyo. Selain dari hasil
wawancara saya kepada bapak Bandi, saya juga melakukan observasi secara
langsung terhadap masjid Syuhada ini, guna menambah informasi yang bisa saya
sampaikan.
Saya membuat tulisan ini bertujuan agar orang lain bisa
mengetahui tentang keunikan masjid yang ada di kampung saya, dan saya berharap
ada amanat yang bisa di ambil setelah membaca tulisan ini sampai akhir. Nama
Masjid Syuhada diusulkan oleh sang pendiri masjid, dan di setujui oleh para
tetua kampung. Masjid yang dulunya hanya berupa langgar biasa ini, di bangun
sejak sekitar tahun 1970an, dan setelah kira-kira dalam kurun waktu sepuluh
tahun, langgar tersebut baru direnovasi menjadi masjid.
Terdapat banyak perbedaan antara langgar sebelum direnovasi
dan setelah direnovasi. Diantaranya adalah, ketika masih berbentuk langgar, disini
belum ada adzan yang menggunakan pengeras suara, hanya dibantu dengan bedug
masjid agar bisa di dengar orang banyak. Selain itu, ketika masih berupa
langgar, langgar ini hanya digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu saja,
dan selain itu tidak terdapat kegiatan apapun, entah itu kegiatan
kemasyarakatan maupun keagamaan.
Ukuran langgar juga cenderung sempit bila dibanding dengan
luas masjid saat ini. Dan didalamnya pun hanya terdapat satu ruangan, pemisah
antara jamaah laki-laki dan perempuan hanya dipisah dengan sekat yang terbuat dari
pipa paralon yang di beri kain sebagai pembatasnya. Kemudian, dengan alasan-alasan
tertentu, dan dengan dorongan-dorongan masyarakat yang dibantu dengan para
donatur, langgar tersebut pun direnovasi menjadi masjid. Ruang yang sempit dan
kecil, menjadi alasan utama, karena semakin lama jamaah semakin bertambah,
apalagi saat memasuki bulan Ramadhan.
Selain itu, karena para jamaah masjid yang di dominasi oleh para
orang tua, ingin memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, seperti
mengaji TPQ, namun karena fasilitas yang kurang memadai, akhirnya ini juga
menjadi pendorong perenovasian masjid. Sebenarnya perbedaan antara langgar
dengan masjid, bukan hanya terlihat dari bentuknya dan luasnya saja, tetapi
juga dapat dilihat dari penggunaan masjid, kegiatan-kegiatan yang berlangsung
disana, fasilitas-fasilitas yang terdapat didalamnya, dan masih banyak lagi
yang bisa kita lihat dan rasakan. Dengan bergotong royong, para penduduk kampung
bekerja bakti merenovasi masjid.
Masalah pembiayaan dan keuangan, sudah ada donatur yang
memang sejak berbentuk langgar, beliaulah yang paling berjasa, mulai dari
pembelian bahan bangunan hingga tanah tempat berdirinya masjid, itu adalah
hasil sumbangan beliau dan dibantu dengan bantuan swadaya masyarakat. Setelah
dibangun menjadi masjid, tentu keadaan sangat berbeda dibandingkan saat masih
berbentuk langgar. Mulai dari bentuk dan penggunaan dari masjid itu sendiri.
Setelah perenovasian masjid selesai, masjid terlihat lebih
megah, terdapat dua ruangan yang digunakan masing-masing untuk jamaah perempuan
dan jamaah laki-laki. Penggunaan bedug sudah dihilangkan, karena saat
mengumandangkan adzan sudah menggunakan pengeras suara. Selain itu, masjid juga
digunakan untuk kegiatan-kegiatan keagamaan lain selain sholat berjamaah lima
waktu. Seperti, pengajian TPQ bagi anak-anak yang ingin belajar membaca al-qur'an,
pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak, tempat untuk rapat membahas tentang
keagamaan di kampung, dan lain sebagainya.
Juga dari segi fasilitas yang ada di dalamnya, seperti penerangan
yang cukup, adanya kipas angin, kamar mandi yang dilengkapi dengan wc, tempat
wudhu yang lebih luas, dan tentunya tempat sholat yang lebih luas. Namun,
dibalik beberapa kelebihannya, masjid ini masih memiliki beberapa kekurangan,
yakni belum adanya ruangan khusus yang digunakan untuk tempat bagi kegiatan-kegiatan
keagamaan selain sholat, kegiatan-kegiatan ini harus menggunakan tempat sholat
berjamaah laki-laki, karena memang ini adalah ruang utama dan lebih luas
dibanding tempat bagi jamaah perempuan.
Bahkan dimasjid ini pun tidak ada serambi, atau teras yang
digunakan untuk duduk-duduk ataupun sekedar menunggu waktu sholat. Orang-orang
biasanya memilih duduk di tangga depan pintu masuk masjid, ataupun di teras
rumah warga yang tepat berada di depan masjid. Namun kekurangan ini bukan tanpa
alasan, keterbatasan luas tanah menjadi faktor utamanya. Karena di samping kiri,
kanan, depan, dan belakang sudah terdapat pekarangan dan rumah warga.
Setelah selesai direnovasi menjadi masjid, jamaah masjid
menjadi semakin ramai. Para kaum masjid menjadi bersemangat berangkat ke masjid
baru ini. Dan ini menjadi kemajuan tersendiri bagi kampung Kroyo dalam bidang
agama, karena orang yang sebelumnya tidak melaksanakan sholat, sekarang dia
mengerjakan, dan orang yang sebelumnya tidak tahu atau pengetahuannya tentang
agama kurang, sekarang menjadi bertambah berkat adanya pengajian.
Kemajuan keagamaan ini juga berkat para ulama atau orang
yang ilmu agamanya tinggi, merek mendatangi rumah-rumah, yang laki-lakinya
tidak pernah terlihat di masjid. Memberikan pengertian-pengertian mendasar
tentang agama, dan mengaja mereka untuk sholat berjamaah di masjid. Ada orang
yang menanggapi dengan positif, dan mengikuti ajakan untuk sholat berjamaah di
masjid, ada juga yang bersikap acuh bahkan mengusir para ulama yang datang.
Setelah masjid menjadi ramai, dan bahkan jamaah yang
rumahnya jauh pun rela datang ke masjid untuk sholat berjamaah ataupun
mengikuti kegiatan keagamaan. Untuk mempermudah jamaah yang jarak tempat
tinggalnya jauh dengan masjid, dibangunlah mushola ditempat lain yanh sedikit
jauh dengan masjid Syuhada. Hal ini membuat jamaah di masjid Syuhada berkurang,
dan semakin lama semakin berkurang. Kebanyakan jamaahnya adalah orang-orang
lansia.
Walaupun masjid semakin lama semakin sepi, tetapi jika memasuki
bulan Ramadhan jamaahnya bertambah sangat banyak. Bahkan ruangan di dalam
masjid ini tidak cukup untuk menampung para jamaahnya. Sehingga, orang-orang
yang tidak kebagian tempat di dalam, mereka menggelar tikar dan sholat di
pelataran ataupun emperan rumah warga. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya
gagasan pemikiran untuk merenovasi kembali masjid ini.
Namun, ketika rencana ini disampaikan kepada donatur utama
yang sebelumnya membiayai pembangunan masjid, beliau justru malah terkesan tidak
setuju. Untuk itu, perenovasian di batalkan. Namun, selang beberapa tahun,
donatur tersebut meninggal, dan selang satu tahun, istrinya juga meninggal.
Entah kenapa, rencana perenovasian masjid kembali muncul, dan kali ini tidak
ada yang menghalangi. Dengan alasan kurangnya ruang, dan masjid juga sudah
terlihat kuno, akhirnya masjid ini direnovasi kembali.
Pada tahun 2016 dilaksanakanlah perenovasian, dan dalam
kurun waktu lebih dari enam bulan akhirnya perenovasian masjid ini selesai.
Masjid yang baru terdiri dari dua lantai, lantai bawah terdiri dari dua ruangan.
Sebelah kiri untuk jamaah laki-laki, dan sebelah kanan untuk jamaah perempuan.
Sementara untuk lantai atas, digunakan untuk ruang serba guna. Fasilitas-fasilitas
masjid setelah direnovasi juha semakin lengkap. Karena saya melakukan observasi
saat keadaan masjid telah direnovasi menjadi dua lantai, jadi saya akan
membabarkan fasilitas yang ada saat ini.
Pada ruang utama, bau khas bangunan baru tercium, dengan nuansa
cat berwarna putih bercampur hijau, dengan karpet bercorak masjid yang berwarna
merah dan hijau menutup seluruh permukaan lantai. Disini terdapat enam jendela kaca
besar di bagian depan, lima kipas angin yang tersebar ditambah satu di bagian tempat
imam. Dengan delapan lampu ditambah satu lampu dibagian tempat imam, membuat ruang
utama ini menjadi cukup terang. Di sini terdapat satu buah jam analog di bagian
belakang dan satu buah jam digital yang dilengkapi dengan alarm yang menunjukkan
waktu sholat yang terletak di bagian depan.
Juga terdapat satu buah almari di bagian pojok belakang yang
berisi beberapa al-qur'an, buku iqro', buku yasin, dan sajadah. Juga terdapat mimbar
bagi khotib yang berdiri kokoh di sebelah tempat imam. Dan disebelah kiri ruangan
ini ada pintu yang langsung terhubung ke tempat wudhu bagi jamaah laki-laki yang
juga dilengkapi dengan toilet. Kemudian ke ruang sebelah kanan dari ruang utama,
di sinilah ruang bagi jamaah perempuan. Ruangan ini terlihat lebih sederhana dibanding
ruang utama, hanya ada dua kipas angin di samping kiri dan kanan, ditambah satu
di bagian tengah.
Sumber penerangannya berasal dari empat buah bola lampu di setiap
pojok dan dibantu dengan empat jendela kecil di sebelah kanan. Disini juga terdapat
etalase yang berisi empat stel mukena, dan dua sajadah. Dan lantainya ditutup karpet
yang bercorak sama dengan ruang utama. Dan di sebelah kanan terdapat pintu yang
langsung terhubung ke tempat wudhu perempuan, yang juga dilengkapi dengan toilet.
Kemudian ke lantai dua, naik melalui tangga yang berada di samping kiri bangunan
masjid ini.
Nuansa cat di lantai dua senada dengan ruang-ruang yang lain,
hanya saja disini terlihat lebih lapang karena tidak terlalu banyak perabotan yang
mengisi. Dibawahnya terdapat karpet hijau polos yang menutup seluruh bagian lantai,
di dindingnya terdapat satu buah jam analog, empat kipas angin di setiap sudut,
dan empat lampu diatasnya. Kemudian tentang kegiatan-kegiatan keagamaan yang
ada di masjid Syuhada ini, seperti pengajian
TPQ bagi anak-anak. Pesertanya sekitar 20 orang anak pada hari-hari biasa, dan bisa
mencapai 100 anak pada bulan Ramadhan.
TPQ dipandu oleh seorang ustadz, yang di bantu dua atau tiga
orang remaja muslim pada hari biasa, dan bisa mencapai sepuluh orang lebih pada
bulan Ramadhan. Selain itu ada kajian rutin bagi bapak-bapak dan ibu-ibu. Pengajian
bapak-bapak biasa diadakan setiap malam selasa atau senin malam, biasanya di isi
dengan membaca al-qur'an secara bergiliran, dan dipimpin oleh seorang takmir masjid,
dengan peserta sekitar 15 orang. Sementara untuk pengajian ibu-ibu diadakan setiap
malam jumat atau kamis malam, biasanya di isi dengan membaca surat yasin dan al-qur'an
secara bersama-sama, dengan peserta sekitar 50 orang, dan dipimpin oleh seorang
yang dituakan atau di hormati.
Selain keunikan tentang seringnya masjid ini direnovasi, ada
informasi lain yang saya dapatkan, bahwa ternyata pernah terdapat kejadian
mistis di dalam masjid ini, dan juga kabar-kabar dari warga sekitar bahwa
terdapat beberapa tempat yang dianggap angker disekitar masjid ini. Salah satu
kejadian tersebut adalah, pernah suatu ketika,
waktu bulan Ramadhan, ada seseorang yang berniat untuk berdiam diri di masjid, mencari
malam lailatul qadar, dan ternyata sebenarnya malam itu bukan malam ganjil, seseorang
itu datang sendirian.
Dia bercerita katanya malam itu ada
yg menyuguhi makanan, padahal tidak ada siapapun, dia juga makan sambil tetap beribadah,
selesai itu, karena dia sendirian dan katanya hawanya tidak enak dia langsung pulang.
Keesokan harinya, dia lewat depan rumah salah satu takmir, sambil bilang, tadi malam
makanan banyak banget tidak ada yang makan, tidak ada orang soalnya. Lalu si
takmir memeriksa kedalam masjid, tidak ada apa-apa, dan setelah cerita-cerita, sepertinya
itu kerjaannya jin yang tinggal disana, karena memang malam itu tidak ada siapa-siapa
yamg datang, apa lagi mengantarkan makanan. Namun juga tidak ada yang tahu
secara pasti tentang kejadian tersebut, wallahu'alam.
Selain itu, terdapat cerita mistis lain yang saya dengar
dari masyarakat sekitar, yakni tentang adanya kebun di belakang masjid,
dan disana terdapat pohon nangka besar dan berusia cukup tua, dan letaknya
berada di dekat tempat wudhu perempuan, warga sekitar banyak yang bilang bahwa
di tempat itu ada penunggunya, tapi tidak mengganggu, cuma terkadang menampakkan
diri, dan karena ini masjid juga sudah termasuk tua , jadi banyak jin yang tinggal
di dalamnya, namun jin muslim.
Mungkin cukup sekian, cerita yang dapat saya sampaikan,
semoga bermanfaat. Dan semoga, ini bisa menjadikan pengertian bagi kita semua,
bahwa peradaban Islam telah sangat berkembang di Indonesia. Di zaman sekarang, tidaklah
sulit bagi kita kaum muslim untuk mencari masjid bila ingin menunaikan ibadah.
Semoga semakin berkembangnya Islam dapat juga meningkatkan iman kita terhadap
agama Islam ini. Aamiin.
![]() |
| hasil plagramme |
Selasa, 23 Februari 2016
Mengenal Daun Mint dan Manfaatnya Bagi Tubuh
Artis senior asal Inggris, Joan Collins, membocorkan rahasia tubuh rampingnya meskipun kini telah menginjak usia 79 tahun.
Melalui akun Twitternya, peraih penghargaan Golden Globe Award tahun 1983 ini mengungkapkan bahwa menyikat gigi dengan pasta gigi peppermint sangat membantu mengontrol nafsu makannya.
Menurut Anda ini aneh? Mari cari tahu seampuh apa pepermint dalam membantu menyusutkan ukuran pinggang.
Daun mint merupakan salah satu makanan diet yang sangat baik. Di Cina, tanaman ini sudah digunakan sebagai pelangsing alami meskipun masih jarang dipakai.
Beberapa penelitian telah membenarkan bahwa peppermint membantu mengurangi rasa lapar, mengontrol nafsu makan dan meningkatkan pencernaan.
Sebuah studi dari Wheeling Jesuit University, US, menyimpulkan bahwa orang yang mengonsumsi peppermint secara rutin cenderung makan 2.800 kalori lebih sedikit setiap minggu dibandingkan mereka yang tidak.
Selain itu, daun mint juga mengandung mentol yang dapat mempercepat sirkulasi, meringankan kembung, mual dan kram serta membakar lemak tubuh. Semua ini membantu menurunkan berat badan.
Khasiat peppermint tak hanya sebatas apa yang dimakan, tetapi juga yang dihirup oleh indera penciuman. Aroma peppermint dapat membantu mengekang nafsu makan dan ngidam makanan.
Menurut Bryan Raudenbush, Ph.D, aroma daun mint juga meningkatkan aktivitas otak yang mengontrol kewaspadaan. Studi oleh University of Cincinnati membuktikan bahwa kewaspadaan mental dan fokus meningkat 28 persen karena menghirup aroma mint.
Tiga dari produsen terbesar dari mint dan produk terkait mint seperti minyak esensial - adalah Amerika Serikat, India dan Cina. AS dan India menghasilkan pasokan terbesar minyak mint yang digunakan dalam permen karet, pasta gigi, obat kumur, dan beberapa produk lainnya. Tanaman ini biasanya ditanam di Eropa, Asia, Afrika, Australia, dan Amerika Utara. Cocok digunakan sebagai daun mint, khususnya sebagai makanan, minuman, pasta gigi, permen karet, dan permen.
Daun mint (Mentha cordifolia). Dengan mengonsumsi mint ternyata baik bagi tubuh, seperti mendinginkan saluran pencernaan, atau jika sakit perut akan amat membantu menghilangkan rasa sakitnya. Daun Mint adalah tanaman yang sangat haus. Ini tumbuh di mucklands baik dikeringkan di Indiana, Michigan dan Wisconsin. Hal ini juga tumbuh dengan baik di Oregon, Washington, Idaho, South Dakota dan Montana.
Daerah ini berbagi satu karakteristik: Mereka semua utara paralel ke-41, di mana jumlah yang tepat siang hari menghasilkan hasil terbaik dan kualitas minyak. Mint adalah tanaman tahunan yang menghasilkan benih tidak. Hal ini ditanam dalam baris, dengan negara-bersertifikat, saham bebas penyakit, root atau pelari bawah tanah dari tanaman yang ada. Pada tahun kedua tanaman menyebar, menciptakan mint yang solid.
Minyak disimpan dalam kelenjar di bagian bawah daun peppermint dan spearmint. Sebuah acre (.4 ha) mint menghasilkan sekitar 76 pound (34,5 kg) minyak. Mint sulit untuk tumbuh dan perawatan khusus harus diambil untuk memastikan hanya kualitas terbaik selesai minyak.Sementara meminum teh herbal mint dapat mengurangi sindrom iritasi usus, membersihkan perut, dan juga membersihkan gangguan pada kulit seperti jerawat. Adapun 6 manfaat kesehatan dari Daun Mint yaitu:
1. Manfaat untuk kesehatan utama dari daun mint adalah efeknya terhadap sistem pencernaan tubuh. Aromanya yang khas, dapat mengaktifkan kelenjar ludah dan enzim pencernaan dalam tubuh kita., Di negara-negara barat daun mint dijadikan makanan pembuka. Daun mint juga dapat digunakan mengobati gangguan pencernaan dan perut. Bila Anda sakit perut, Anda bisa meminum secangkir Teh mint. Aroma Mint juga berguna untuk mengobati mual dan sakit kepala. Minyak menthol yang berasal dari daun Mint banyak dipakai orang-orang yang sering berpergian jauh untuk mencegah mual.
2. Minyak Mint adalah stimulan, oleh karena itu dapat berguna dalam mengobati depresi, stres dan sakit kepala. Anda bisa menggunakan sabun aroma mint saat mandi atau meneteskan minyak mint ke sarung bantal Anda sehingga Anda dapat menghirupnya.
3. Daun mint dapat membantu Anda menurunkan berat badan, karena merangsang pencernaan lemak! Seperti pada bahasan di atas.
4. Aroma mint yang kuat juga memberikan manfaat kesehatan pada sistem pernapasan dan digunakan untuk mengobati berbagai gangguan pernapasan. Hal ini sangat efektif sebagai dekongestan hidung, tenggorokan, bronkus dan paru-paru, dan mengobati gangguan pernapasan tertentu seperti asma dan batuk.
5. Daun Mint juga memiliki fungsi dan manfaat kesehatan untuk mulut. Daun mint sering digunakan untuk merawat Kesehatan mulut, karena daun mint memiliki sifat anti kuman. Anda tinggal mengunyah daun mint untuk melawan pertumbuhan bakteri berbahaya di dalam mulut, gigi dan lidah.
6. Daun mint juga baik untuk kesehatan kulit, sehingga sering digunakan untuk mengobati jerawat, gigitan serangga, dan luka bakar. Selain itu, daun mint juga digunakan sebagai bumbu dan item dekoratif yang digunakan dalam berbagai hidangan kuliner dan minuman.
Pada Daun mint ini mengandung vitamin C, provitamin A, fosfor, besi, kalsium dan potasium. Serat, klorofil dan fitonutrien juga banyak terkandung didalam daun mint. Daun mint dipercaya dapat memulihkan stamina tubuh, meredakan sakit kepala, mencegah demam, mempunyai sifat antioksidan pencegah kanker dan menjaga kesehatan mata. Silahkan buktikan dan rasakan berjuta manfaat Daun Mint untuk kesehatan tubuh anda.
Sekian postingan dari saya, mohon maaf apabila ada kesalahan, dan semoga bermanfaat. Ingin tau lebih jelasnya, klik link dibawah ini
http://resepmasakanyuni.blogspot.com/2013/01/manfaat-daun-mint-mentha-cordifolia.html
Langganan:
Postingan (Atom)




